Jumat, 03 November 2017

Trichoderma reesei


Trichoderma reesei merupakan fungi yang masuk ke dalam divisi ascomycota, yang artinya jamur ini memiliki struktur seksual askus, yaitu tempat dibentuknya askospora, suatu spora nonmotil. Di bawah divisi, jamur ini dikelompokkan dalam subdivisi pezizomycota. Pezizomycota merupakan jamur yang lebih cenderung bereproduksi dengan membelah diri. Hampir semua jamur dalam subdivisi ini memiliki fruiting body (sporocarp) yang disebut ascocarp. Klasifikasi yang lebih lengkap adalah sebagai berikut.

Kingdom
Fungi
Divisi
Ascomycota
Subdivisi
Pezizomycota
Kelas
Sordariomycetes
Ordo
Hypocreales
Famili
Hyproceaceae
Genus
Trichoderma
Spesies
T. reesei

Trichoderma reesei termasuk organisme mesofil, yaitu organisme yang hidup dalam temperatur sedang. Trichoderma hidup pada rentang temperatur 25-30 oC, beberapa hingga 45 oC. Jamur ini memiliki bentuk filamen-filamen. Genus Trichoderma secara umum memiliki morfologi yang menyesuaikan tempat tumbuh. Pada media yang nutrisinya terbatas, koloinya transparan, sementara pada media yang nutrisinya lebih banyak, koloni dapat terlihat lebih putih.

Konidiofor jamur Trichoderma sangat bercabang-cabang, sering kali membentuk cincin konsentrik sepanjang hifa aerial. Cabang utama konidiofor bercabang lagi, kemudian bercabang lagi. Cabang primer dan sekunder membentuk sudut sekitar 90o. Biasanya konidiofor berujung pada satu atau lebih phialides, yaitu bentuk yang menggembung di tengah.

Gambar 1 Morfologi Trichoderma reesei
Sumber https://en.wikipedia.org/wiki/Trichoderma_reesei


HABITAT DAN KULTIVASI
Trichoderma reesei dapat ditemukan di bahan yang membusuk. Jamur ini hidup sebagai rizosfer yang dapat menginduksi resistensi terhadap patogen. Jamur ini bahkan juga diisolasi dari sumber yang tidak diharapkan, seperti kecoa, kerang-kerangan, juga usus rayap. Jamur ini dapat hidup di seluruh dunia karena mampu beradaptasi dengan baik dengan lingkngannya.

Untuk kultivasi di laboratorium, spora diperbanyak dalam potato dextrose agar (PDA) di piring pada 30 oC selama 7 hari. PDA diberi suplemen berupa larutan yang mengandung 1 g ZnSO4·7H2O dan 0,5 g CuSO4·5H2O dalam 100 mL air MilliQ. Spora dipanen dengan menambah 10 mL air MiliQ pada piring Trichoderma reesei kemudian mengikis piring dengan spatula. Larutan yang mengandung spora disaring melewati tiga lapisan Miracloth kemudian dihitung di bawah mikroskop.


NILAI INDUSTRIAL
Saat ini, di dunia industri, Trichoderma reesei dimanfaatkan untuk mendapatkan selulase, karena jamur ini memiliki kemampuan untuk memproduksi selulase. Selulase sendiri merupakan enzim yang dapat menghidrolisis selulosa sehingga menjadi glukosa. Beberapa jamur lain juga dapat memproduksi selulase. Namun, kelebihan jamur Trichoderma reesei adalah mudah dan murah dalam kultivasi. Organisme yang dapat memproduksi selulase seperti ini disebut organisme seluitik.

Gambar 2 Enzim selulase
Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Cellulase

Enzim selulase komersial yang didapat dari jamur Trichoderma reesei merupakan campuran beberapa enzim: selulase (endo-1,4-β-glukanase); glukan 1,4-β-glukosidase (ekso-1,4-β-glukosidase); selulosa 1,4-β-selobiosidase (ekso-selobiohidrolase). Berikut ini mekanisme kerja enzim-enzim tersebut dalam menghidrolisis selulosa.

Gambar 3 Mekanisme kerja enzim selulase
Sumber http://www1.lsbu.ac.uk/water/enztech/cellulose.html

Ada banyak strain Trichoderma reesei, yang mana tiap strain dapat memproduksi selulase dalam jumlah yang berbeda. Sejak jamur ini ditemukan, banyak pengembangan dilakukan untuk meningkatkan produksi selulase. Dengan ilmu dan teknik genetika, lahir generasi baru Trichoderma reesei yang diberi julukan “hyperproducer”. Salah satu yang terbaik adalah mutan strain Trichoderma reesei Rut C-30. Strain ini dapat mensekresi protein dalam jumlah yang besar. Bila dibandingkan dengan strain yang lain, misal strain NG14, Rut C-30 dapat memproduksi dua kali lebih banyak.


DAFTAR PUSTAKA
[1]   Anonim. Trichoderma reesei. [Online]. Tersedia: https://en.wikipedia.org/wiki/Trichoderma_reesei [13 Maret 2017]
[2]   Anonim. Trichoderma. [Online]. Tersedia: https://en.wikipedia.org/wiki/Trichoderma [13 Maret 2017]
[3]   Chaplin, Martin. 2014. Glucose from Cellulose. [Online]. Tersedia: http://www1.lsbu.ac.uk/water/enztech/cellulose.html [14 Maret 2017]
[4]   Miettinen, Arja dan Oinonen. 2004. Trichoderma reesei Strains for Production of Cellulases for the Textile Industry. Finland: Julkaisija-Utgivare-Publisher
[5]   Peciulyte, Ausra, dkk. (2014). Morphology and enzyme production of Trichoderma reesei Rut C-30 are affected by the physical and structural characteristics of cellulosic substrates. Fungal Genetics and Biology [Online], volume 72 halaman 64-72. Tersedia: http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1087184514001340 [13 Maret 2017]
[6]   Schuster, André, Monika Schmoll. (2010). Biology and Biotechnology of Trichoderma. Appl Microbiol Biotechnol [Online], 87(3): halaman 787–799. Tersedia: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2886115/ [13 Maret 2017]

Sumber gambar: deviantart.com

Senin, 19 Juni 2017

Day 24 - Rumah


Kudengar bunyi krik... krik... krik... yang tak hanya tiga kali. Sepertinya si jangkrik menertawakan lelucon super garing yang dilontarkan seseorang malam ini. Namun, malam ini begitu sepi. Mungkin hanya pohon dan rerumputan yang berbincang-bincang dengan bahasa mereka yang tentu tak kumengerti. Apa mereka suka menceritakan lelucon renyah sepanjang malam?

Tumbuhan-tumbuhan pendek terbagi dalam daerah mereka masing-masing. Setiap bangsa memiliki daerah kekuasaan mereka sendiri. Tak masalah, mereka damai dengan itu. Inilah yang disebut petak-petak sawah. Di antara mereka, beberapa rumah berdiri. Terlihat menyendiri. Bagaimana pun, inilah tempat berteduh diri.

Ia terlindung pagar di mukanya. Halamannya tertutup ubin, namun tak menghalangi ingatanku ketika ia masih dipenuhi rumput dua tahun lalu. Ia yang rindang dengan bunga melati dengan jumlah yang cukup untuk membuat wangi. Begitulah melati, yang wanginya membuat ketagihan. Dulu di sana juga ada pohon mangga. Kuingat ketika memetik mangga darinya. Ia membuatku tersenyum kecut karena memang manisnya bercampur kecut.

Tak pula kulupakan pohon tinggi yang dulu sempat agung di depan rumah. Ketika malam kudapati siluetnya yang tanpa daun bak pohon-pohon hutan horor dalam adegan film sinematis. Setidaknya, dulu ada sesuatu yang kupandang dari jendela. Ia sudah tiada beberapa tahun lalu. Ditebang beberapa orang hanya untuk diambil kayunya. Menghilangkan pelengkap panorama persawahan bahkan sebelum rumah ini berdiri.

Masih kudengar krik... krik... krik... itu. Sambil begitu, mungkin tikus sedikit-sedikit mengintip untuk melakukan survei rahasia posisi makanan. Ah, ini memang rumah.

#RamadhanInspiratif
#Challenge

#Aksara

Kamis, 15 Juni 2017

Day 20 - Is The Paradise Real?


Ah, a beautiful place. So green, so purple, and so orange. That is my home in the morning. It is not a house, but a mosque, a white square mosque. There I live. The green is the trees. But they are black in that time as silhouette. The purple is the sky, and the orange is our closest star. The atmosphere touching my skin, then the sound of nature attaching me. They are the birds singing. But now, with all that beautifulness, I begin think. Is there an illusion in my eye?

I remember that time when I went outside. This city is called Bandung. I watched the rivers and the real (I think) nature. They are so different to the paradise – nature in my mind. They are even different to the rivers in my childhood in my motherland, Magelang city. They are more likely trash boxes. Trashes everywhere. They fullfill the rivers as much as the water. That happens in either middle of city or the place with more trees (here what I call nature).

That time I wrote a poetry. Not about nature actually. From the poetry, I as well as my friends would make a video. It would be so beautiful if the setting was in nature. Then we went there, a place called Dago Curug. I think, since it is a nature, the river would be so clear. But it is only a dream. My eyes one more time can not avoid trashes in river. This city is now become the sea of trashes.
My only hope now is that in the other city, or the other island in Indonesia, the nature is really a paradise. A beautiful place. Yeah, when I see posters, they really are. But posters were the other illusion. Some of them even worse. Forests in Sumatra and Kalimantan burnt. The soil broken because of the palm oil factory. Also, it is said in antaranews.com that 70% rivers in Indonesia have been damaged. Well, is the paradise real?

It is said that Salman mosque (my home) is the model of my country. I think it is. I live too long here. But this is a comfort zone. People need to see outside, the real world, and how dark it is. Don’t see poster, I know how it is made and I often do that – making that illusion. Just go outside and see the truth. Disappointed to the reality?

Then I touch my hand. It is real, I can feel it. I see around, beautiful place with beautiful stars (it is night). In my muse, I still in searching of the paradise. It is not illusion. Salman mosque is a real place, unlike poster. There are good people that throw rubbish to the right place. There are fresh air blown from the trees. This place growing people’s consciousness up. I now understand, it is not a model of my country, but it will.

Movement is done everywhere. Many organization move on that field. Learning is also held. I know that people is trying. We can change, we can move together. We are in progress to reach it. All of us should be part of it. Since people that destroy nature, people is the one who have to change. I hope one day, this beautiful reality is not only found here in my home, but everywhere. So, this place will be the real model of the beautiful civilization. We will get our result in searching the paradise, because the paradise is real. It doesn’t seem yet.

#RamadhanInspiratif
#Challenge
#Aksara

Rabu, 14 Juni 2017

Day 19 - Sejarah dalam Fiksi


Malam telah larut. Ini sudah melebihi waktu tidur normal. Tapi rentetan kata itu berhasil membujukku. Kedua mataku mengikutinya. Kata-kata memang menyihir. Ia menyeretku untuk tetap membaca hingga titik terakhir dalam cerita.

Kali ini aku membaca sebuah novel tulisan Oliver Bowden, Assassin’s Creed Brotherhood. Ini adalah novel keduanya yang kubaca setelah Assassin’s Creed The Secret Crusade. Hal yang menarik bagiku dari tulisan ini adalah unsur sejarah yang dikandungnya. Ia berkisah tentang masa lalu yang tentu merupakan hal luar biasa bagiku. Penggambaran suasananya tentu akan lebih sulit dibandingkan menulis kisah masa kini yang sudah kita temui setiap hari.

Teringat aku akan obrolan sarkas dengan temanku. Ia yang memang suka berkomentar kali ini mengomentari tulisan dalam pelajaran bahasa inggris yang membahas video game. “Kenapa seolah semua tulisan memojokkan video game?” Seperti yang kita tahu, memang banyak tulisan yang membahas hal negatif yang dapat timbul dari video game. Temanku berkata, kalau video game pun memberi hal positif, seperti pembelajaran. Ia berkata beberapa video game bisa membuat kita belajar sejarah, seperti game Assassin’s Creed.

Dalam seri kali ini, dikisahkan perjuangan Ezio Auditore dan rekan-rekan persaudaraannya untuk menumpas keluarga Borgia, terkhusus Cesare Borgia. Kisah ini berlatar di sekitar Eropa, paling sering di Italia, pada abad ke-16. Saat itu, gereja dipimpin oleh paus bernama Rodrigo Borgia atau paus Alexander VI. Dalam sejarah, ia dikenal sebagai paus paling korup. Agamawan yang menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan duniawi. Tentu dengan kekuasannya itu ia menjadi kaya. Kemudian, ia dengan uangnya, ia mendanai anaknya yang jahat, Cesare Borgia untuk menghimpun pasukan dan menguasai Italia. Roma yang dulunya kota besar, di bawah kekuasaan Borgia menjadi kota yang menderita. Itulah yang berusaha dilawan oleh Persaudaraan Assassin.

Menulis cerita ini tentu menjadi hal yang menantang, terutama karena ia menghadirkan tokoh nyata seperti Rodrigo Borgia, Leonardo da Vinci, Niccolo Machiavelli, dan lainnya.

Terlepas dari inti kisah novel tersebut, benar apa yang dikatakan temanku. Kita bisa belajar dari game, juga novelnya. Fiksi tak selamanya receh dengan kisah cintanya yang memabukkan. Fiksi bisa mengandung pelajaran berharga dari unsur-unsur yang dikandungnya. Bisa jadi belajar kemanusiaan, budaya, psikologi, dan dalam kasus ini sejarah. Tentu penulis yang baik tidak main-main dalam menulis. Mereka akan melakukan riset yang mendalam untuk menghasilkan karya yang mendalam.

#RamadhanInspiratif
#Challenge

#Aksara

Senin, 12 Juni 2017

Day 17 - Kaderisasi Kucing


Putih-putih melati, bercampur jingga api. Ialah kucing berinisial A dan berakhiran i. Pemilik bulu halus, bersih, dan rapi. Ia cenderung pendiam, tak seperti kucing cerewet yang hobi meneriakkan “meong” di sana sini. Dimulai beberapa bulan lalu, ia sering ke Asrama Putra Salman, dari pagi hingga pagi lagi, tinggal bersama kami.

Dimulai bulan Maret lalu, tiba-tiba A berada di dalam kotak kardus di salah satu ruangan. Hal yang mengharukan sedang terjadi. Ketika didekati, ia selalu waspada. Ketika ditilik lebih dekat, terdapat tiga ekor kucing kecil dengan mata tertutup dan belum bisa berjalan. Mereka sedang menyusu. Ah, bayi kecil yang lucu!

Sebelum hari itu, sering kudapati A mampir di gedung kayu Salman. Di sana, ia tidur dan bermalas-malasan, terkadang memohon untuk diberi makan. Yah, ia memang tak bisa bergerak lebih bebas, karena ia sedang hamil. Tentu ia bukan lagi kucing remaja yang suka bermain dan dimanja, dielus di atas pangkuan orang-orang.

Ketiga anaknya masing-masing berinisial N, N, dan C. Untuk membedakan N dan N yang satunya, sebut saja Na dan Nu. Aku tidak akan menyebut namanya karena itu cukup terlarang (hanya anak asrama putra yang tahu). Na berwarna putih dengan sedikit bercak-bercak jingga. C mirip dengan Na, hanya saja jingganya lebih banyak dibanding Na. Sementara itu, Nu adalah yang paling berbeda karena ia lebih kaya warna, yaitu hitam-putih-jingga dengan hitam yang paling dominan. Begitu mengharukan melihat ketiganya bersama, menyusu, dan terkadang si ibu memandikan (menjilati) mereka. A begitu protektif dan tak pernah keluar dari kotaknya. Ketika seseorang mendekat, ia akan menatap waspada dan meneriakkan “meong”. Sejauh yang kuperhatikan, ia bahkan tak pernah makan. Ketika ia keluar lalu mendapati seseorang mendekati kardus, ia akan berlari dan mendahuluinya untuk mencapai kardus. Ibu yang baik. Aku tersenyum melihat tingkah lakunya.

Tapi, bagaimana kucing memiliki perasaan itu? Bukankah hewan hanya mengikuti instingnya untuk bertahan hidup? Toh kalau A meninggalkan anak-anaknya dan membiarkan mereka mati, ia masih tetap hidup. Apakah ia memiliki kasih sayang pada anak-anaknya layaknya manusia? Ini akan menjadi persoalan menarik yang entah apakah sains bisa menjelaskannya.

Mitos yang kudengar, ketika kucing memiliki anak, ia akan berpindah-pindah tempat dalam menjaga anaknya selama tujuh kali pindahan. Dan benar saja, suatu ketika kudapati mereka menghilang. Memang hari-hari sebelumnya sering kudapati A mondar-mandir. Ia sedang survei lokasi. Ketika kucari ke sana ke mari, ada satu tempat yang ketika kudekati A menjadi sangat waspada. Ternyata di bawah lemari! Ah, serius lah, itu bukanlah tempat yang cukup bagus. Hanya anak-anaknya yang muat masuk ke sana. Lalu kupindahkan kembali mereka ke tempat semula. Begitu lucu mendapati A khawatir ketika aku memegang anaknya untuk dipindahkan. Si anak pun meneriakkan “meong” dengan nada rendah yang lucu. Di lain hari, mereka pindah ke salah satu kamar temanku. Karena itu bisa mengganggu, kupindahkan lagi mereka ke tempat semula.

Hari-hari berlalu. Entah kenapa aku merasa bahagia ketika mata anak-anak itu mulai terbuka. Hari terus berlanjut, level mereka bertambah. Mereka sudah bisa berjalan. Persaingan terjadi. Mereka mulai berkelahi berebutan menyusu. Hari berlanjut lagi, mereka bisa mengintip di balik kardus, melihat dunia di luarnya. Akhirnya, mereka pun bisa melompat keluar. Selanjutnya, mereka tinggal di luar kardus. Saat itu tingkat protektif si ibu sudah berkurang. Mungkin ia sudah terbiasa dengan kedatangan kami (manusia) dan paham kalau kami tidak akan membunuh. Atau mungkin ia sudah cukup yakin dengan anak-anaknya. Ia bahkan sudah membiarkan anak-anaknya berkeliaran bebas. Aku ingat kala pertama mereka berjalan-jalan di sekitar asrama, menyebar, menjauh dari ibunya. Tapi, mereka selalu dapat kembali. Mereka tetap tinggal bersama dan A tetap menyusui dan memandikan mereka.

Bulan Mei, umur mereka sudah dua bulan. Mereka sudah bisa bermain lebih aktif. Berlarian, melompat-lompat, mengejar tali yang digerak-gerakkan, serta berkelahi satu sama lain. Begitu lucu melihat tiga kucing kecil berkelahi sekaligus. Tapi, karena mereka sudah bisa makan, kami khawatir mereka buang air sembarangan. Jadi, kami pindahkan mereka ke tempat parkir. Tapi, bagaimana pun mereka dipindahkan, mereka selalu dapat kembali ke asrama. Sepertinya mereka sudah nyaman di sini.

Sekarang bulan Juni. Mereka sudah tiga bulan. Meski ukuran sudah meningkat, mereka tetap masih kucing kecil. Tapi, mereka sudah bisa mandiri. Kali ini, mereka benar-benar pergi. Barangkali ada yang mengambil mereka untuk diadopsi ketika mereka bermain di sekitar masjid. Hanya satu yang masih kembali, Na. Ia tak lagi punya teman berkelahi. Kadang-kadang ia malah berkelahi dengan ibunya. Ia masih sering minta menyusu kepada ibunya dan ibunya menendangnya karena sudah tidak memperbolehkan lagi. Tapi, si ibu masih memandikannya dan kadang khawatir ketika ia menghilang. Tapi, kekhawatirannya sudah tak seperti dulu ketika mereka bayi. Mereka sudah cukup mandiri. Yah, begitulah kaderisasi di kalangan kucing.

#RamadhanInspiratif
#Challenge
#Aksara

Minggu, 11 Juni 2017

Bandung Tanpa Penghuni

Di sebuah waktu yang tak akan kau temui, kota Bandung menjadi tidak berpenghuni. Alkisah, di sana, hiduplah seorang manusia yang nama instagramnya PenghuniBandung. Sambil Anda memahami kejanggalan cerita ini, PenghuniBandung memasang plat di setiap tepian kota. Plat itu dari papan kayu yang jumlahnya sangat banyak, cukup banyak untuk mengisi garis perbatasan di setiap jalan. Plat-plat itu bertuliskan:

SELAMAT DATANG DI UJUNG DUNIA

ANDA MEMASUKI KAWASAN FIKTIF

MENUJU TAK TERBATAS DAN MELAMPAUINYA

PAYAH, AYO MASUK!

AREA PERTEMUAN LANGIT DAN BUMI

HIDUP ANDA DIMULAI DARI SINI

PenghuniBandung tinggal di sebuah gedung berbentuk kotak retak-retak, berwarna putih lapis lumut, dan interiornya yang berlantai kayu hanya berisi sarang laba-laba. Ia tak pernah tahu gedung apa itu. Sepanjang hari ia jalani dengan kemalasan. Jarang ada inovasi mengenai apa yang akan ia lakukan. Meski ada, tak jarang ia meninggalkannya sebagai wacana. Itulah yang ia definisikan dengan kedamaian. Ia membencinya. Sehari sekali, ia memanjat menara yang ada di depan gedung, berharap ada kendaraan terlihat dari sana.

Bertemu orang lain sudah menjadi impiannya yang mendarah daging. Ia melakukan usaha yang dianggapnya sudah cukup keras. Memasang plat-plat itu merupakan bagian dari usahanya. Selain itu, ia selalu mengunggah gambar di instagramnya yang pengikutnya sembilan orang. Setiap gambar ia sertai caption “AYO KE BANDUNG, HENTIKAN PERDAMAIAN”.

Sejak batas ingatannya, ia tak pernah bertemu orang lain selain dua orang. Orang pertama yang datang ia sambut dengan tinju di pipi tiga kali, urut kanan-kiri-kanan. Ketakutan, orang itu pun berlari pergi dan tak pernah kembali. PenghuniBandung hanya menatap kepergian orang pertama dengan makian karena ia beranggapan orang pertama tak tahu terima kasih atas sambutan yang sudah ia berikan.

Gerutunya masih belum redam selama beberapa hari sejak kejadian itu. Ia menjalani paginya dengan kopi panas tanpa gula dan kegalauan. Sambil menatap pusaran krimer yang terbentuk dari adukan, ia memikirkan apa salahnya pada orang pertama. Ketika pusaran itu berhenti, ia mengaduknya lagi. Kali ini ia menyalahkan orang pertama yang tak tahu terima kasih. Ia mengaduk kopinya lagi. Lalu ia menggeneralisasikan bahwa semua orang lain itu tidak baik.

Masih galau, ia pun menemui teman bijaknya, rumput. Itu adalah rumput setinggi satu meter yang bersembunyi di balik semak-semak. “Put, kita jarang ketemu akhir-akhir ini. Ke mana saja kau?”

Rumput pun bergoyang.

“Oh iya, kau kan rumput. Begini Put.” PenghuniBandung menghela napas dalam posisi jongkoknya. “Aku bertemu orang lain kemarin. Tapi dia bukan orang baik. Dia pergi begitu saja setelah aku memberinya tinju tiga kali.”

Rumput pun bergoyang.

“Apa? Kenapa bisa ini salahku? Bukannya kau sendiri yang bilang kalau aku bertemu orang lain, aku harus memberinya sesuatu? Aku bertemu dengannya tanpa persiapan saat itu. Aku hanya memiliki tinju. Jadi, ya... begitulah.”

Rumput pun bergoyang.

“Hm... jadi aku tidak boleh memberi tinju ketika bertemu orang lain ya? Kalau begitu, aku harus selalu punya persiapan. Bisa jadi aku tidak sengaja bertemu orang lain seperti kemarin.”

Rumput pun bergoyang.

“Ah, ide bagus! Kenapa aku tidak terpikirkan hal semacam itu? Daripada aku memberikan sesuatu kepada orang lain ketika bertemu, lebih baik aku mengajaknya ke rumah dan memberinya sesuatu. Begitu kan?”

Rumput pun bergoyang.

“Terima kasih, Put. Kau memang bijak. Ini, kau bisa meminum kopiku.” PenghuniBandung menyiramkan kopinya yang sudah tak panas tepat pada pertemuan rumput dan tanah. Rumput menyeruput sedikit-sedikit.

Belajar dari pengalaman pertama, PenghuniBandung tidak lagi memberi tinju pada orang kedua. Ia memberi sambutan pada orang kedua, mengajak (memaksa) orang kedua untuk pergi ke rumahnya. Sejak awal memang ia tak terlihat ramah. Ia menggiring orang kedua ke rumahnya seperti penjaga yang mengawal tahanan. Ia yang berjalan di belakang tak pernah melepaskan pandangannya dari orang kedua. Orang kedua yang pandangannya lebih sering tertunduk sesekali melempar pandang ke belakang. Tatapan tajam PenghuniBandung membuatnya segera berbalik.

Begitu sampai gedung kotak-putih-berisi-sarang-laba-laba, PenghuniBandung menyuruh orang kedua duduk tanpa keramahan sepersen pun. Orang kedua harus menunggu di sana sementara ia akan mengambilkan minum.

PenghuniBandung membanting cangkirnya, pecah. Kopi meluber ke mana-mana membabi buta. PenghuniBandung tak mendapati orang kedua di tempat terakhir ia meninggalkannya. “Dia kabur! Dia kabur!” Ia turut berlarian membabi buta mengikuti kopinya.

Orang kedua yang bersembunyi seolah udang di balik batu mengintip PenghuniBandung yang kesetanan. Begitu PenghuniBandung keluar, ia berlari ke arah yang berlawanan. Mendapati PenghuniBandung dalam proses panjat menara, ia berlari secepatnya.

PenghuniBandung yang telah berada di puncak menara mengamati sekitar. Matanya menajam menangkap setiap gerakan sekecil apa pun, sejauh apa pun. Ia dapati orang kedua berlari terang-terangan menjauh seperti dikejar setan. Ia menatap ke bawah, tinggi. Kegilaannya mendorong untuk melompat. Tapi akal sehatnya memberi tahu konsekuensinya. Bila ia melompat, kisahnya berakhir di sini.

Waktu start-nya tertinggal jauh karena ia harus naik menara lalu turun lagi. Tapi keinginannya yang cukup kuat membuatnya mampu mengejar orang kedua. Jarak mereka hanya lima meter. PenghuniBandung mengulurkan tangannya panjang-panjang. Ketika jarak antara ujung jarinya dengan baju orang pertama hanya satu senti, ia mengerem, berhenti. Ia menarik kakinya jauh-jauh dari garis batas. Sekali lagi ia berdiri menatap kepergian orang lain. Matanya benar-benar dipenuhi benci. Napasnya terengah. Sementara orang kedua yang menatap belakang bersyukur PenghuniBandung tak lagi mengejarnya.

“Put, rencananya tidak berhasil.” katanya pada rumput.

Rumput pun bergoyang.

“Mudah bagimu bilang sabar. Tapi menjalankannya sangat sulit.” Ia duduk membanting pantatnya sendiri.

Rumput pun bergoyang.

PenghuniBandung menghela napas. “Orang itu pergi lagi. Padahal aku sudah baik mengajaknya ke rumah dan memberinya minum. Apa sih yang salah dengan semua orang?”

Rumput pun bergoyang.

“Interaksi? Apa maksudmu dengan interaksi?”

Rumput pun bergoyang.

“Iya, aku sudah melakukannya. Aku menyambutnya dengan penuh semangat. Sepertinya memang semua orang aneh. Ah, sudahlah. Aku tidak mau bertemu orang lain lagi.”

Rumput pun bergoyang.

“Berinteraksi dengan orang lain? Apa ada cara seperti itu? Kau tahu aku di sini sejak... sejak aku tidak tahu kapan itu. Aku tidak paham dengan orang lain, kenapa mereka sedingin itu padaku. Kalau seperti yang kau bilang tadi, aku harus belajar berinteraksi dengan orang lain, sepertinya tidak mungkin. Aku sendiri, Put. Benar-benar sendiri. Dan kau... kau adalah rumput.”

Rumput pun bergoyang.

“Kau gila?! Tidak, Put. Aku tidak bisa melakukannya. Aku pernah bercerita kepadamu kan, ada seseorang yang berkata padaku, kalau aku melangkah keluar batas, aku akan hancur.”

Rumput pun begoyang.

“Benar juga. Berarti aku pernah bertemu seseorang sebelum ini. Tapi... siapa? Aku benar-benar tidak ingat. Aku tidak yakin seperti apa orang itu.”

Rumput pun bergoyang.

“Ya, aku tahu ini doktrin. Tapi, bagaimana kalau doktrin ini benar? Risikonya aku akan hancur dan tidak bisa pergi selamanya.”

Rumput pun bergoyang.

“Aku memang tidak yakin dengan orang itu. Kau mengajukan pertanyaan yang membuatku pusing. Satu-satunya cara membuktikan kebenaran adalah melangkah keluar dan melihat aku hancur atau tidak. Bagaimana kalau aku benar-benar hancur?” PenghuniBandung berpaling. Suasana tenang sejenak. “Kurasa kau benar, Put. Aku tidak bisa percaya begitu saja dengan seseorang yang aku sendiri tak begitu yakin. Terima kasih, Put. Kau teman paling baik yang kumiliki. Kalau aku benar-benar melangkah keluar, kita akan berpisah. Sampai jumpa.” Ia berjalan dengan mantab menuju perbatasan.

Hatinya kian dilanda bimbang ketika melihat garis batas itu. Duh, apa aku harus melakukannya? Ia menarik lagi kaki yang hampir melangkah. Ia mengangkatnya lagi. Tidak, tidak, aku bisa mati. Ia berbalik, hatinya hampir tunduk. Pasti ada cara lain. Ia kembali lagi, menegaskan pikirannya akan kemungkinan lain. Pilihan itu bisa mengubah dunianya. Diingatnya dunianya selama ini. Terlalu penuh dengan yang ia sebut damai. Membosankan. Ia bisa mendapat lebih dari itu bila ia keluar dari sini. Kalau aku tetap di dalam sini, sepertinya sama saju aku mati. Aku sudah mati sejak dulu. Tak pernah ada kehidupan. Dan aku tetap mati bila tetap di sini. Bila keluar, ada kemungkinan aku bisa hidup. Kakinya gemetar bergeser maju. Ia angkat, pelan-pelan, pelan-pelan, pelan-pelan, pelan-pelan. Hei, ujung kakiku sudah ada di luar. Ia pun mendorong dirinya sepenuhnya ke luar. Aku hidup! Betapa berbunga hatinya. Ini hidup paling hidup yang pernah kurasakan. Sang PenghuniBandung telah menanggalkan identitasnya. Kini ia adalah seorang pengembara yang berjalan untuk mencari kebenaran, untuk belajar.

Bila kau merasa janggal di awal cerita, kini kau menemukan jawabannya. Ini bukanlah kisah Bandung kota tak berpenghuni. Ini kisah bagaimana bandung menjadi kota tak berpenghuni. Meski di antara kau dan aku tak ada yang tahu alasannya.

Bandung, 10 Juni 2017

Arsyad M. D.

#RamadhanInspiratif
#Challenge
#Aksara

Jumat, 09 Juni 2017

Day 14 - Sinopsis Film Roma Done


Siang silau kemilau, sore merah merekah, malam gelap temaram, pagi buta bagai cinta. Mereka semua teman setia yang diabaikan oleh Roma. Matanya tak lelah-lelahnya memandangi komputer pada setiap sebutan waktu itu. Bahkan titik-titik checkpoint yang ditandai dengan waktu sholat tak ia hiraukan. Bentakan sang dosen pembimbing yang telah lalu tak membuat hatinya gentar. Ia terus maju bermain video game.

Seolah dunia berjalan tanpa mendapat sedikit pun perhatian Roma. Tapi nyatanya, ada satu yang mampu menarik perhatiannya. Ketika sang pemilik kosan mendatanginya, dunianya sedikit bergeser. Tak lain tujuannya adalah menarik hutang Roma yang kian menumpuk. Kali ini, ia membawa ultimatum, “Kalau hutangmu tidak lunas dalam tiga hari, minggat!” Ketika ia tak lagi punya tempat untuk berteduh, bagaimana ia bisa melanjutkan permainannya?

Ketika ia dirundung pilu, pilu justru kian merundung. Para pemberi hutang yang agaknya seram tetiba mencegatnya. Namun bagaimana ia punya uang? Setiap ada, ia selalu menghabiskannya untuk game. Bak film dramatis sinetronis ala Indonesia, Roma pun dipukuli. Tak hanya di situ, kesialan semakin riang menghampirinya. Puncaknya adalah ketika seorang jambret mengambil tasnya yang berisi laptop. Kini, tak ada lagi game di kehidupan Roma.

Mungkin Tuhan murka. Tapi, murka-Nya pada Adam yang mengambil buah terlarang justru mengantarkan pasangan itu menuju bumi tempat kerja keduanya sebagai khalifah. Begitu pula yang terjadi pada Roma. Perubahan menanti di depannya. Beginilah cara kerja-Nya. Ketika sentilan kecil tak membuat Roma tergerak, harus ada sedikit paksaan. Objek tak tergerakkan bertemu dengan Yang Maha Menggerakkan. Dunia bisa berubah.

Beginilah film yang digarap beberapa mahasiswa yang sedang belajar. Film berfaedah namun dikemas dengan beberapa candaan karena memang kami hobi bercanda. Dari segi kualitas mungkin masih kalah dengan film Hollywood (bukan mungkin sih), tapi ini akan menjadi langkah awal untuk menuju puncak-puncak yang tak terdefinisi.

Trailer film bisa Anda tonton di official account Line Gamais ITB. Di bawah ini juga ada.



#RamadhanInspiratif
#Challenge
#Aksara

Who am I

Arsyad Jenengku Arsyad
Yo wes, kui wae.
amdzulqornain@gmail.com