Minggu, 21 April 2019

Kisah Perjalanan - Warna Akihabara

Hasil gambar untuk akihabara

Tak pernah kusaksikan fenomena kota yang begitu berwarna melebihi Akihabara. Warna-warni itu bahkan tak tertutup oleh efek sepia sang senja. Kota bercahaya ini dihidupkan oleh lalu lalang manusia yang tak peduli waktu. Kombinasi dinamika dan warna menjadikan kota Akihabara sebuah mega karya seni tersendiri. Kami berdua menyusuri jalan kecil, siap menjadi salah satu penyumbang dinamikanya. Sebagai malam terakhir di Tokyo, belum afdal bila kota yang terkenal hingga penjuru dunia ini tak kami kunjungi. Tidak ada tujuan luar biasa yang mengiringi perjalanan kami kali ini. Meski begitu, hatiku tetap tersenyum bersama angin yang berhembus tak berarti. Di sini, aku bisa menemukannya: “suara pertama dari masa depan”.

Apa yang kita perlukan ketika tidak tahu arah? Beruntung aku sempat berguru kepada Dora si petualang semasa kecil. “Peta!” Begitulah katanya. Kami berhenti di depan sebuah toko. Terpampang karakter Makise Kurisu dengan rambut merah berkibarnya dari novel dan anime fenomenal Steins Gate pada selembar kertas dengan warna dominan merah jambu. Negeri ini memang tak tanggung-tanggung. Bahkan lembaran brosur yang dapat diambil gratis didesain begitu berseni dan penuh warna. Turis, terutama yang berasal dari luar negeri sepertiku akan sangat terbantu dengannya. Di dalamnya, tersimpan peta Akihabara yang memberikan pencerahan akan tujuan kami.

Bila dalam teknologi Jepang dibilang maju, dalam hal seni, Jepang adalah dunia lain. Negeri ini menciptakan aliran seninya sendiri. Karakter berwajah imut dengan mata lebar, rambut warna-warni, dan terkadang bertelinga hewan menjadi ciri khas gambarnya. Figur-figur ini mengiringi berbagai brosur, poster, hingga sepanduk raksasa. Lumrah bagi Akihabara yang dikata pusat anime memajang berbagai figur anime di setiap bangunannya. Melalui anime, aliran seni ini telah merasuki negara-negara di dunia. Bahkan aku telah mengenalnya sejak kecil melalui anime-anime lawas seperti Tsubasa dan Dragon Ball. Akibatnya, terbentuklah sebuah subkultur baru dalam tatanan masyarakat yang disebut otaku.

Keberadaan anime juga menjadi penopang eksistensi sastra di Jepang. Banyak anime yang tayang di berbagai belahan bumi diadopsi dari novel dan manga. Dengan pengemasan cerita yang menarik, manga dan novel-novel Jepang berhasil menarik minat masyarakat dunia. Tak heran banyak turis luar negeri yang mengunjungi kota ini. Latar belakang inilah yang menjadi landasan langkah kami menuju Book Off.

Book Off menjadi koleksi lema baru dalam pustaka otakku setelah kunjungan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) hari sebelumnya. Dalam rangka implementasi budaya 3R (reduce, reuse, recycle), Book Off hadir sebagai tempat penjualan buku-buku bekas. Kami menginjakkan kaki di lantai terakhir begitu mendapati apa yang kami cari tak ada di lantai-lantai sebelumnya. Dan di sinilah mereka, novel-novel yang telah lepas dari pemegang pertamanya berkumpul rapi. Novel ringan yang sudah mendapat nama seperti Sword Art Online hingga yang tak kuketahui sama sekali dapat ditemukan. Sampul yang memajang karakter khasnya tetap mulus tanpa cacat seolah barang baru. Perjalanan panjang ini membuktikan bahwa kebiasaan orang Jepang dalam menjaga barangnya bukanlah mitos belaka.

Berbicara soal 3R, Akihabara juga menjadi tempat di mana kita bisa mendapatkan barang-barang elektronik bekas. Toko di kanan-kiri jalanan sempit yang kami lalui pertama kali memajang berbagai perangkat elektronik layaknya beras kiloan. Laptop-laptop bekas dijajarkan dalam keranjang seolah pakaian obral. Soal harga, tak perlu dipertanyakan. Bahkan, komputer mulus dengan layar lebar bisa didapatkan hanya dengan sepuluh ribu yen, setara dengan satu seperempat juta rupiah. Memang pantas Akihabara menyandang gelar sebagai pusat elektronik.

Begitu keluar dari Book Off, kami beranjak menuju tempat berikutnya. Saatnya menemukan titipan temanku. Ialah action figure Hatsune Miku. Dalam lingkungan otaku, nama Hatsune Miku tentu sudah tak asing. Dia adalah vocaloid, sebuah program komputer yang dapat menyintesis lagu dengan figur seorang gadis berambut biru. Namanya sendiri secara harfiah berarti “suara pertama dari masa depan”. Meski hanya program, hologram Miku telah tampil di berbagai konser dan bahkan mengalahkan jumlah penggemar penyanyi nyata. Sekali lagi, Jepang memanglah “dunia lain”.

Kami kembali menyusuri jalan kecil itu. Mbak-mbak berkostum maid berjajar di sepanjang jalan, tak lupa dengan senyuman demi mempromosikan kafe mereka. Dengan tingginya penguasaan teknologi, kesejahteraan masyarakat, etika sosial, serta minimnya masalah, Jepang pantas untuk mengembangkan peradabannya melalui seni dan hiburan. Namun, seolah terasa ada yang hampa. Banyak kisah di animenya menggambarkan kehampaan ini: tujuan dan makna hidup. Belajar, bekarja, hiburan, tujuan apa yang dikejar dari siklus hidup ini? Bagaimanapun, dengan sadar atau tidaknya akan kehampaan ini, kenyataannya manusia berlalu lalang di jalanan Akihabara dengan senyuman. Tak ada yang mampu menutupi warnanya.

Akihabara, Tokyo
11 Januari 2019

1 komentar:

Who am I

Arsyad M. D.
amdzulqornain@gmail.com