Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Agustus 2020

Kembali ke Revolusi 2.0

M. Fahruriza Ridwan/untidar.ac.id


Revolusi industri 4.0 digadang-gadang untuk membawa perubahan besar industri di seluruh dunia. Indonesia, yang masih menjadi bagian dunia, tentu tak ingin ketinggalan langkah dan turut mengarus demi memenuhi tuntutan zaman. Seminar dan pelatihan digelar di seluruh penjuru negeri. Invensi dikembangkan di semua perguruan tinggi. Rasanya, tak mungkin negara seterbuka Indonesia ketinggalan dalam revolusi yang bertitik tolak pada kata kunci “era informasi” ini. Dengan menenteng berbagai macam teknologi yang tentu saja impor, Indonesia turut melangkah mengikuti jejak kaki negara-negara di depannya. Lantas, apa yang salah dengan ini? 

Indonesia memang selalu mengikuti perkembangan zaman dimulai dari revolusi industri di Inggris hingga kini revolusi 4.0. Namun, sejatinya Indonesia tak pernah khatam bahkan sejak revolusi pertamanya. Biarpun telah menggunakan mesin dalam proses produksinya, mesin yang dipakai adalah hasil ciptaan negara luar. Dalam revolusi kedua, di mana diterapkan produksi skala besar dan penggunaan energi listrik, lagi-lagi Indonesia mengimpor mesin. Kata mengikuti masih terlalu tepat untuk dipakai oleh Indonesia.

Kenyataan bahwa Indonesia tak bernah benar-benar berevolusi dalam dunia Industri sebenarnya masalah kecil. Toh sedari awal industri memang digerakkan oleh orang-orang barat yang harus hidup di tanah yang tak cukup subur. Mereka yang harus melewati musim dingin diwajibkan memutar otak untuk merancang teknologi demi bertahan hidup. Teknologi industri sudah di tangan mereka. Masalah terbesar adalah bahwa Indonesia bahkan tak pernah khatam revolusi hijau.

Di masa lalu, orang-orang barat selalu bermimpi menempati tanah surga di mana rerumputan tumbuh sepanjang tahun. Bahkan setelah kejatuhan Konstantinopel, mereka rela melalangbuana menaklukkan lautan demi menemukan surga ini. Surga yang juga menjadi sumber rempah-rempah ini tak lain adalah Nusantara, yang saat ini sebagian besar wilayahnya menjadi Negara Indonesia. Potensi terbesar negeri ini adalah posisi geografis yang menjadikannya beriklim tropis. Hal ini menjadikan berbagai macam komoditas pertanian, perkebunan, dan kehutanan yang tak mungkin ditemukan di wilayah lain dapat tumbuh di Indonesia. Potensi ini tak cukup digali dan Indonesia malah larut dalam menyemarakkan revolusi yang bukan bidangnya. Sudah saatnya kita berhenti menari mengikuti genderang yang dimainkan orang lain dan mulai mencanangkan tujuan sendiri. Pertanian menjadi sektor yang menjanjikan untuk dijadikan titik tolak revolusi demi menopang masa depan bangsa.

Pangan sebagai kebutuhan primer manusia akan selalu dibutuhkan hingga akhir zaman. Terbukti semasa gencar-gencarnya isu lockdown, orang-orang berebut pangan hingga menguras supermarket. Apabila dihiperbolakan, ketika mendekati akhir zaman, saat dunia kehabisan energi untuk menopang teknologi, kita takkan butuh hiburan dan kemewahan, tetapi tetap butuh pangan. Karir bergaji tinggi seperti artis, influencer, pegawai minyak, takkan lagi dubutuhkan. Dunia hanya akan mengemis pada petani. Indonesia yang merupakan negara agraris tentu berpotensi merajai dunia.

Demi menciptakan masa depan bagi sektor pertanian, kita perlu menilik kembali buah manis yang dihasilkan selama revolusi hijau. Di Indonesia, revolusi hijau yang membawa perubahan fundamental bagi pertanian digerakkan oleh pemerintahan Orde Baru. Berbagai program dicanangkan demi menopang revolusi ini. Pembangunan sektor pertanian dilakukan di seluruh penjuru negeri. Alhasil, Indonesia yang awalnya mengimpor beras menjadi negara swasembada beras bahkan mengekspornya ke India. Namun, tentunya revolusi hijau memiliki kelemahan karena tak mempu menjadikan Indonesia swasembada pangan secara tetap. Revolusi hijau berakhir surut, tidak seperti revolusi industri yang naik tingkat. Di sinilah pentingnya menyongsong revolusi hijau 2.0.

Perlu dilakukan perubahan besar dalam dunia pertanian mulai dari daerah pelosok, pertanian kota, teknologi pertanian, agroindustri, hingga distribusi hasil pertanian. Revolusi hijau yang lalu tak sempat menjangkau petani-petani kecil dengan lahan kurang dari setengah hektar yang notabenenya hidup di daerah pelosok. Akibatnya, petani-petani kecil tak terbiasa dengan teknik dan teknologi pertanian. Patani di daerah Waduk Jatiluhur Karawang misalnya.

Ketika saya berkunjung ke daerah pelosok Karawang tersebut, petani-petani di sana masih memiliki pemikiran primitif seperti semakin banyak tanaman yang ditanam, semakin besar pula produktivitasnya. Padahal, dalam teori pertanian, terdapat jarak tanam yang optimal di mana produktivitas lahan menjadi maksimal. Demikian halnya dengan jumlah pupuk yang digunakan. Tak hanya pemikiran yang hanya berdasar asumsi, secara praktik pun mereka belum terbiasa dengan teknologi pertanian. Tak pernah sekali pun mereka menggunakan plastik mulsa yang sebenarnya sudah umum digunakan dalam pertanian.

Penyuluhan yang tidak menjangkau daerah pelosok seperti ini menjadi salah satu penyebab ketidakmajuan pertanian di sana. Mereka akhirnya memilih untuk menggunakan cara bertani secara turun temurun. Becermin dari revolusi hijau masa Orde Baru, diperlukan sumber daya manusia unggul yang siap terjun ke lapangan untuk memajukan pertanian pelosok. Era tersebut dapat menghasilkan sarjana-sarjana pertanian demi menunjang tujuan ini. Sayangnya, sarjana pertanian saat ini lebih memilih lari menjadi pegawai bank.

Revolusi hijau 2.0 juga mencakup perubahan mental para sarjananya. Penentuan tujuan yang jelas dalam pengembangan dan penelitian pertanian akan menuntun para sarjana ke jalan yang benar. Tak sekadar kecerdasan, kemamuan dan keberanian untuk bergerak para sarjana pertanian penting untuk menggencarkan perubahan fundamental pertanian Indonesia. Indonesia tak pernah kekurangan orang. Integrasi dan orientasilah yang kurang. Ketiadaan integrasi akan berakibat pada penelitian berulang yang hanya menelan biaya. Orientasi yang tak jelas membuat dosen sekadar mengejar gelar dan mahasiswa mengejar kelulusan.

Bergeser ke pertanian kota, urban farming menjadi topik yang menarik untuk terus dikaji dan dikembangkan. Badan Ketahanan Pangan pun telah merintis program Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Program ini bertujuan untuk mengajak masyarakat memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk ditanami beragam tanaman demi terpenuhinya kebutuhan pangan keluarga. Ini adalah ide yang brilian. Tidak mustahil di negeri yang katanya kayu saja bila dilempar sembarangan akan tumbuh menjadi pohon ini untuk mengimplementasikan hal tersebut. Tentu saja, dalam revolusi, program ini harus digencarkan di seluruh penjuru negeri.

Kementerian Pertanian telah memberikan contoh P2L melalui pekarangan Toko Tani Indonesia Center (TTIC) Jakarta. Baru-baru ini, pekarangan TTIC telah digarap dengan apik dan mampu menghasilkan komoditas sayuran segar. Bagaimana bila tak hanya TTIC, melainkan taman-taman kota juga ditata menjadi urban farming? Selanjutnya, di trotoar, daripada dibiarkan tertutup semen, alangkah lebih baik bila disediakan sederet tanah untuk ditanami sayur-sayuran. Pegawai kebersihan bisa diserahi tugas memelihara sayur-sayuran ini dan mereka pula yang akan menikmati hasilnya. Jadi, selain mendapatkan gaji yang tak seberapa, pegawai kebersihan juga dapat mengambil untung dari sayur-sayuran ini.

Bila setiap meternya wilayah Indonesia ditutupi oleh tanaman hijau yang tertata rapi, Indonesia bisa memiliki trademark sendiri, bukan saja sebagai daerah agrowisata, melainkan negara agrowisata. Bali bisa menjadi sampel pesona agrowisata yang mampu menarik turis asing di samping pantainya. Inilah pentingnya menggali dan memamerkan potensi pertanian Indonesia. Memang tak salah mengikuti perkembangan zaman membangun revolusi industri 4.0. Namun, Indonesia perlu memiliki tujuan sendiri yang harus dikejar dengan memanfaatkan potensinya agar tak terus menerus dipermainkan negara orang. Revolusi hijau perlu dikhatamkan.

Sumber gambar: M. Fahruriza Ridwan, untidar.ac.id

Senin, 22 April 2019

Kisah Tokyo: Warna Akihabara

Hasil gambar untuk akihabara

Tak pernah kusaksikan fenomena kota yang begitu berwarna melebihi Akihabara. Warna-warni itu bahkan tak tertutup oleh efek sepia sang senja. Kota bercahaya ini dihidupkan oleh lalu lalang manusia yang tak peduli waktu. Kombinasi dinamika dan warna menjadikan kota Akihabara sebuah mega karya seni tersendiri. Kami berdua menyusuri jalan kecil, siap menjadi salah satu penyumbang dinamikanya. Sebagai malam terakhir di Tokyo, belum afdal bila kota yang terkenal hingga penjuru dunia ini tak kami kunjungi. Tidak ada tujuan luar biasa yang mengiringi perjalanan kami kali ini. Meski begitu, hatiku tetap tersenyum bersama angin yang berhembus tak berarti. Di sini, aku bisa menemukannya: “suara pertama dari masa depan”.

Apa yang kita perlukan ketika tidak tahu arah? Beruntung aku sempat berguru kepada Dora si petualang semasa kecil. “Peta!” Begitulah katanya. Kami berhenti di depan sebuah toko. Terpampang karakter Makise Kurisu dengan rambut merah berkibarnya dari novel dan anime fenomenal Steins Gate pada selembar kertas dengan warna dominan merah jambu. Negeri ini memang tak tanggung-tanggung. Bahkan lembaran brosur yang dapat diambil gratis didesain begitu berseni dan penuh warna. Turis, terutama yang berasal dari luar negeri sepertiku akan sangat terbantu dengannya. Di dalamnya, tersimpan peta Akihabara yang memberikan pencerahan akan tujuan kami.

Bila dalam teknologi Jepang dibilang maju, dalam hal seni, Jepang adalah dunia lain. Negeri ini menciptakan aliran seninya sendiri. Karakter berwajah imut dengan mata lebar, rambut warna-warni, dan terkadang bertelinga hewan menjadi ciri khas gambarnya. Figur-figur ini mengiringi berbagai brosur, poster, hingga sepanduk raksasa. Lumrah bagi Akihabara yang dikata pusat anime memajang berbagai figur anime di setiap bangunannya. Melalui anime, aliran seni ini telah merasuki negara-negara di dunia. Bahkan aku telah mengenalnya sejak kecil melalui anime-anime lawas seperti Tsubasa dan Dragon Ball. Akibatnya, terbentuklah sebuah subkultur baru dalam tatanan masyarakat yang disebut otaku.

Keberadaan anime juga menjadi penopang eksistensi sastra di Jepang. Banyak anime yang tayang di berbagai belahan bumi diadopsi dari novel dan manga. Dengan pengemasan cerita yang menarik, manga dan novel-novel Jepang berhasil menarik minat masyarakat dunia. Tak heran banyak turis luar negeri yang mengunjungi kota ini. Latar belakang inilah yang menjadi landasan langkah kami menuju Book Off.

Book Off menjadi koleksi lema baru dalam pustaka otakku setelah kunjungan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) hari sebelumnya. Dalam rangka implementasi budaya 3R (reduce, reuse, recycle), Book Off hadir sebagai tempat penjualan buku-buku bekas. Kami menginjakkan kaki di lantai terakhir begitu mendapati apa yang kami cari tak ada di lantai-lantai sebelumnya. Dan di sinilah mereka, novel-novel yang telah lepas dari pemegang pertamanya berkumpul rapi. Novel ringan yang sudah mendapat nama seperti Sword Art Online hingga yang tak kuketahui sama sekali dapat ditemukan. Sampul yang memajang karakter khasnya tetap mulus tanpa cacat seolah barang baru. Perjalanan panjang ini membuktikan bahwa kebiasaan orang Jepang dalam menjaga barangnya bukanlah mitos belaka.

Berbicara soal 3R, Akihabara juga menjadi tempat di mana kita bisa mendapatkan barang-barang elektronik bekas. Toko di kanan-kiri jalanan sempit yang kami lalui pertama kali memajang berbagai perangkat elektronik layaknya beras kiloan. Laptop-laptop bekas dijajarkan dalam keranjang seolah pakaian obral. Soal harga, tak perlu dipertanyakan. Bahkan, komputer mulus dengan layar lebar bisa didapatkan hanya dengan sepuluh ribu yen, setara dengan satu seperempat juta rupiah. Memang pantas Akihabara menyandang gelar sebagai pusat elektronik.

Begitu keluar dari Book Off, kami beranjak menuju tempat berikutnya. Saatnya menemukan titipan temanku. Ialah action figure Hatsune Miku. Dalam lingkungan otaku, nama Hatsune Miku tentu sudah tak asing. Dia adalah vocaloid, sebuah program komputer yang dapat menyintesis lagu dengan figur seorang gadis berambut biru. Namanya sendiri secara harfiah berarti “suara pertama dari masa depan”. Meski hanya program, hologram Miku telah tampil di berbagai konser dan bahkan mengalahkan jumlah penggemar penyanyi nyata. Sekali lagi, Jepang memanglah “dunia lain”.

Kami kembali menyusuri jalan kecil itu. Mbak-mbak berkostum maid berjajar di sepanjang jalan, tak lupa dengan senyuman demi mempromosikan kafe mereka. Dengan tingginya penguasaan teknologi, kesejahteraan masyarakat, etika sosial, serta minimnya masalah, Jepang pantas untuk mengembangkan peradabannya melalui seni dan hiburan. Namun, seolah terasa ada yang hampa. Banyak kisah di animenya menggambarkan kehampaan ini: tujuan dan makna hidup. Belajar, bekarja, hiburan, tujuan apa yang dikejar dari siklus hidup ini? Bagaimanapun, dengan sadar atau tidaknya akan kehampaan ini, kenyataannya manusia berlalu lalang di jalanan Akihabara dengan senyuman. Tak ada yang mampu menutupi warnanya.

Akihabara, Tokyo
11 Januari 2019

Sabtu, 13 April 2019

Kisah Tokyo: Istana Sampah


Detik tetap berjalan tanpa menoleransi kepentingan kami pagi itu. Udara dingin merasuk membekukan hidung hingga pangkalnya. Di bawah sana, bebek mengapung menikmati ketidakpeduliannya atas waktu. Di Minato, aliran tanpa pengotor itu terhubung langsung dengan laut. Jauh di sana, laut yang tenang bersanding serasi dengan suasana perkotaan yang damai. Kami menuruni tangga, meninggalkan kenikmatan lanskap penuh harmoni itu. Cerobong tanpa asap menjulang tinggi ke langit ditemani pabrik yang beraktivitas tanpa suara. Inilah tempat tujuan kami: istana para sampah.

Minato Incineration Plant merupakan satu dari 21 insinerator di Tokyo, istana para sampah. Di antara empat kasta sampah di Tokyo, hanya sampah terbakar (combustible waste) yang tinggal di istana ini. Setiap hari, sampah yang telah dikumpulkan masyarakat Minato diangkut ke tempat ini. Seperti halnya kelahiran manusia yang selalu diimbangi dengan kematian, kedatangan sampah pun diimbangi dengan kepergian. Realitas ini begitu berbeda dari tempat pembuangan akhir (TPA) yang kujumpai di Bandung di mana hanya ada kedatangan tanpa kepergian. Sampah menua di sana, abadi.

Jepang bukanlah masyarakat yang berkompromi dengan sampah. Agar dapat hidup bersama masyarakat, sampah pun harus menunjukkan seberapa besar dirinya berguna. Kejam memang, tidak seperti negeriku yang begitu baik hati hingga membiarkan sampah hidup bebas bersama masyarakat tanpa melakukan apa pun. Minato Incineration Plant menjadi tempat para sampah untuk mengembangkan dirinya, menjadikan dirinya berguna.

Anggap saja Minato Incineration Plant sebagai sekolah berbasis semimiliter yang mendidik para sampah. Sebelum kelulusan, terdapat tiga kelas yang harus dilalui. Dari truk pengangkut sampah, mereka memasuki kelas pertama, waste bunker. Di dalam ruangan besar berkedalaman lima meter, sampah dikumpulkan bersama. Dengan penjepit bernama waste crane, sampah-sampah dalam waste bunker diangkat dan dikirim ke kelas selanjutnya, insinerator. Setelah dibakar hingga temperatur 800oC, jati diri sampah pun berubah. Mereka menjadi abu. Abu panas dimasukkan ke kelas selanjutnya, ash conveyor di mana mereka didinginkan dalam air, kemudian berakhir ditampung dalam ash bunker. Di sini, sampah telah dewasa dan siap berperan dalam masyarakat. Beberapa abu digunakan untuk membuat semen, ada yang dicairkan menjadi slag agar dapat bermanfaat lebih, ada pula yang dikirim ke landfill untuk membentuk pulau buatan. Logika umum menyatakan bahwa pembakaran akan menghasilkan asap. Di Tokyo, asap ini tak bisa dibiarkan hidup begitu saja. Sebelum keluar melalui cerobong, asap dengan kandungan dioksin, debu, raksa, asam klorida, dan sulfur oksidanya mengalami berbagai proses fisik dan kimia yang lebih panjang daripada proses pengolahan sampah itu sendiri. Gas sisa itu dikeluarkan tanpa mengakibatkan polusi yang mengganggu masyarakat.

Landfill berada tak jauh dari tempatku berdiri. Tidak seperti di negeriku yang identik dengan gunung sampah, landfill Tokyo tak menunjukkan jati dirinya sebagai tumpukan tak berguna. Kreativitas masyarakat Jepang mengubah tumpukan sampah itu menjadi pulau buatan. Di sini, kasta sampah kedua dan ketiga, yaitu sampah tak terbakar (incombustible waste) dan sampah besar (large-sized waste) banyak berperan. Setelah mengalami pemisahan dalam Incombustible Waste Processing Center dan Large-sized Waste Pulverization Processing Facility, logam yang didapatkan dari sampah-sampah ini dikumpulkan dan dapat digunakan kembali, sementara sisanya dipadatkan menjadi balok-balok. Balok-balok ini ditumpuk di atas pondasi landfill yang tergenang laut. Tumpukan yang semakin tinggi dan meluas kemudian ditutup dengan batu. Begitulah legenda terjadinya Odaiba, pulau buatan Tokyo.

Kasta sampah terakhir adalah sampah daur ulang (resource waste) yang terdiri dari sampah-sampah plastik, botol, dan kertas. Setiap kota di Tokyo memiliki pemrosesan yang bervariasi. Bagaimanapun, keluaran dari proses daur ulang sampah adalah barang yang berguna.

Salah satu prinsip Jepang, recycle, tidak hanya menjadi konsep dan wacana belaka. Abu, pulau buatan, logam-logam, dan barang-barang daur ulang menjadi bukti implementasinya. Bahkan, recycle sendiri hanyalah satu prinsip terakhir. Dua prinsip yang mendahuluinya adalah reduce (mengurangi) dan reuse (menggunakan kembali). Ketiga prinsip itu kerap disebut 3R. Sebelum memasuki tempat sampah, perlu dipertanyakan apakah sampah itu benar-benar tidak bisa dipakai kembali. Bahkan, sebelum menggunakan barang yang berpotensi menjadi sampah, perlu dipertanyakan apakah ada barang lain yang bisa digunakan. Begitulah prinsip 3R mendarah daging dalam masyarakat.

Matahari menunjukkan teriknya yang tak terasa, mengingatkan bahwa sudah saatnya kami beranjak dari istana ini. Tampak di seberang sana anak-anak bertopi kuning berjalan bersama guru mereka. Implementasi konsep tak bisa berjalan tanpa adanya sosialisasi. Jepang menurunkan konsep ini kepada generasi penerus sejak masih kecil. Selain pembudayaan oleh orang tua, jenjang sekolah sejak TK pun mengajarkan etika mengenai sampah. Tak kusangka, bahkan anak-anak berwajah lucu dan lugu seperti mereka telah mengemban nilai yang begitu penting.

Kami kembali menyeberangi jembatan. Tidak adanya satu pun plastik yang berlayar membuat pemandangan bebek berenang kala itu terasa mengharukan. Seperti halnya masyarakat yang selalu taat aturan, sampah pun tahu diri. Bila bukan karena angin yang usil, sampah selalu berada di tempatnya. Memang sulit bila harus seratus persen tanpa sampah, tetapi selama perjalanan kami, sampah yang keluar dari zonanya bisa dihitung dengan jari satu tangan. Tokyo telah menjadi gambaran kota yang berdamai dengan alam. Masyarakat tanpa basa basi dan omongan panjang menunjukkan jati dirinya sebagai khalifah bumi. Bebek-bebek itu menjadi bukti harmoninya.

Tokyo, 10 Januari 2019

Selasa, 09 April 2019

Kisah Tokyo: Evolusi



Langit malam Tokyo sama hitamnya dengan langit malam yang kulihat di Bandung. Seketika angin bertiup membisikkan kemungkinan mati membeku di pinggiran jalan. Berada bebas di luar sana tengah malam sudah seperti terkunci di dalam kulkas bertemperatur di bawah empat derajat. Namun, Tuhan berkehendak lain. Kami dibiarkan hidup dalam naungan penginapan bertemperatur tropis. Seseruput kopi terasa begitu nikmat. Tak terpikir bahwa kami telah berada di tempat yang menjadi pondasi “pohon langit”, menara Skytree. Selamat datang di Sumida. Cerita memang telah bermula, tetapi mulai dari sini, bab baru dibuka.

Paginya kami kembali mengunjungi sang pohon langit yang sudah menjadi latar belakang foto pertamaku di Tokyo malam itu. Tak terbayang bahwa menara tertinggi di dunia itu tadinya hanyalah tumpukan baja, yang dulunya lagi hanyalah bijih yang terkubur di dalam tanah. Seolah-olah manusia telah membangkitkan monster yang tersegel bumi jutaan tahun lamanya. Sang monster memang telah bangkit dan berdiri gagah 634 meter tingginya, tetapi dia tetap tunduk di bawah kekhalifahan manusia dan menjadi saksi bisu evolusi mereka.

Rumornya, kami bisa melihat pemandangan indah gambaran penuh Tokyo dari atas sana. Namun, keterbatasan dana memaksa kami untuk sekadar menumpang lewat. Lampu berbentuk manusia menyala merah, mengisyaratkan kami untuk berhenti. Tak banyak kendaraan yang lewat di depan kami, tetapi kami tetap menunggu lampu itu berganti hijau. Sempat terpikir kenapa orang-orang tidak menyeberang begitu saja seperti yang biasa kami lakukan di tanah air. Bahkan di tengah malam yang kosong, dingin, dan sunyi pun nyala merah lampu itu tetap membuat langkah kami terhenti. Mungkin karena negeri ini sudah lebih dewasa.

Suara gagak menyambut kedatangan kami, anggap saja sedang meneriakkan, “Selamat datang di Universitas Tokyo!” Pohon-pohon berjajar indah. Desir angin kembali menyapaku, kali ini mengingatkanku akan salah satu teori warna, “analog”. Langit jingga cerah, bangunan dari tumpukan batu bata, pohon berbatang coklat dan dedaunan hijau menyusun skema warna fotografi yang serasi. Sampah yang terbungkus rapi dalam plastik kuning pun masih terlihat pantas. Buntelan sampah itu bak pemeran figuran yang kami lewatkan begitu saja tanpa kami sadari legenda hebat yang bersembunyi di baliknya.

Mitosnya, burung gagak adalah pembawa bencana. Mitos itu tak sepenuhnya salah. Bagi masyarakat Jepang, keberadaan gagak bisa mengganggu karena mereka akan mengacak-acak sampah dari kantungnya. Bagi gagak yang penglihatannya jauh lebih baik daripada manusia, menemukan sejumput sisa makanan dalam kantung plastik adalah hal yang mudah. Namun, akal dan pengalaman manusia mampu mengalahkan penglihatan gagak. Kantung sampah dengan warna kuning tertentu diciptakan untuk mengeblok penglihatan gagak sehingga mereka akan melewatkannya begitu saja. Kantung sampah ini memang sering dilewatkan layaknya tokoh figuran. Namun, keberadaannya menjadi bukti salah satu lompatan manusia, khususnya Jepang. Bila gagak adalah dinding masalah, melompatinya artinya berevolusi.

Gagak itu mengingatkanku akan kondisi tempat sampah di negeriku yang cenderung acak-acakan. Masalah yang sama tetapi dengan musuh berbeda. Bila Jepang menghadapi gagak, tempat asalku menghadapi makhluk imut yang disebut kucing. Biarpun gagak adalah hewan menakutkan sementara kucing menggemaskan, keduanya memiliki insting untuk mencari makan. Gagak memanfaatkan ketajaman penglihatannya, sedangkan kucing memanfaatkan ketajaman indra penciumannya. Sayangnya, negeriku belum mampu melewati dinding masalah itu. Mungkin karena negeriku belum dewasa, lompatan kucing masih lebih tinggi hingga bahkan mampu mencapai tempat sampah yang tingginya berkali lipat tubuhnya.

Salah seorang guru pernah berkata bahwa manusia belajar dari masalah dan pengalaman, bukan dari fasilitas. Seseorang dari Kedutaan Besar Republik Indonesia mengingatkanku kembali akan pesan itu. Ketika kami memintanya menceritakan pengelolaan sampah di Tokyo, beliau bercerita mengenai Jepang sebelum 1970. Penyakit aneh yang kemudian disebut penyakit minamata telah merenggut ribuan jiwa. Selidik demi selidik, sebuah korporasi dinyatakan sebagai tersangka dengan tuduhan pelepasan metil merkuri ke laut. Ikan memakan metil merkuri dan masyarakat memakan ikan. Rantai makanan ini berubah menjadi rantai penyakit. Sidang antara masyarakat melawan korporasi akhirnya dimenangkan oleh masyarakat. Insiden ini memang menjadi salah satu dari empat mimpi buruk Jepang, tetapi sekaligus menjadi titik balik masyarakat dalam menjaga lingkungan dan kesehatan. Sistem dibangun, dinding minamata berhasil dilompati, evolusi bergerak satu langkah.

Evolusi sendiri dapat diartikan sebagai perubahan dalam jangka waktu yang lama. Sebagai organisme, manusia telah mencapai bentuk yang paling sempurna. Namun, tidak seperti hewan yang hanya memiliki komponen “wujud” dan “nafsu”, manusia juga memiliki komponen malaikat dan iblis yang disebut sebagai “akal” dan “hasrat”. Keseluruhan komponen itu membuat manusia bisa berevolusi melebihi level organisme. Seperti halnya organisme uniseluler yang berkembang menjadi multiseluler, manusia yang merupakan individu berevolusi menjadi suku. Suku berevolusi menjadi bangsa, bangsa berevolusi menjadi negara, dan negara terus berevolusi untuk mencapai bentuk paling stabilnya. Bila akal adalah kaki dan hasrat adalah kekuatan, evolusi suatu negara ditentukan oleh seberapa besar hasrat milik manusia yang menjadi bagiannya.

Malam itu kami menuju Shibuya, bermaksud mencari kedai ramen berlabel halal. Berbekal lembar peta jalur kereta bawah tanah dengan huruf kana yang telah ditransliterasikan, kami menuju stasiun. Tanpa perintah mengantri, orang-orang membentuk barisan antrian dengan sendirinya. Sebelum masuk, mereka mempersilahkan penumpang untuk keluar. Di dalam kereta terasa hangat. Bila beruntung, kami bisa mendapatkan tempat duduk. Poster-poster tertempel rapi di dinding atas kereta. Setibanya di stasiun Shibuya, kami naik ke permukaan dengan eskalator. Aku sudah terbiasa dengan kebiasaan masyarakat untuk berada di sisi kiri eskalator bila memilih diam dan bergeser ke sisi kanan bila ingin berjalan. Mereka yang terburu-buru tidak akan terhambat. GPS menuntun kami menuju daerah yang cenderung lebih sepi. Namun, seterpencil apa pun, tempat itu tetap elegan. Dilihat dari sisi mana pun, Tokyo adalah kota yang ideal. Interaksi antara teknologi, kebiasaan sosial, dan profesionalisme melahirkan sistem yang membuat Jepang menjadi negara yang stabil. Jepang telah mencapai tahap evolusi yang jauh, jauh lebih dewasa daripada negeriku. Ya, negeriku memang masih anak-anak.

Keesokan paginya, aku menjadi lebih bersemangat. Dinginnya udara lingkungan distabilkan dengan pemanas ruangan hasil olah pikir manusia. Seperti hari sebelumnya, kami melalui trotoar Sumida yang bahkan lebih lebar daripada jalan rayanya. Kulihat langit seperti kali pertama aku berada di sana. Apa paerasaanku saja, atau langitnya memang lebih biru daripada langit di Bandung sana?


Tokyo, 9 Januari 2019

Minggu, 02 April 2017

Apa Bedanya Apel, Ceri, dan Kersen?


Bulat Merah
Kok ada pertanyaan begitu sih? Kan jelas apa bedanya. Apel besar, dan perlu usaha lebih besar untuk menggigitnya. Ceri lebih kecil, lebih lunak digigit. Kersen lebih kecil lagi, dan lebih lunak lagi. Sekarang perhatikan gambar ini. Ini awalnya hanya gambar ceri. Tapi kemudian semua berubah ketika negara api menyerang saya edit dengan Photoshop. Saya tempel sebutir apel dan sebutir kersen. Coba, mana apel dan kersennya?

Intinya, ketiga benda ini punya dua persamaan utama.
Buah
Bulat
Merah
Oke, pernyataan tersebut hanya untuk penegasan bahwa saya tidak gila atau bodoh karena tidak bisa membedakan mana yang apel, ceri, dan kersen. Nah, apa yang membuat saya bingung adalah, gambar apakah ini?

Gambar itu adalah logo yang saya buat untuk blog saya. Niatnya, saya ingin membuat gambar apel, karena kata Steve Jobs, apel itu bentuknya artistik. Tapi, karena keterbatasan kemampuan gerak-gerik tangan saya dalam menggambar, akhirnya yang tercipta adalah gambar buah (iya gak sih?) berbentuk lingkaran, berwarna merah, dan memiliki tangkai hijau, yang mana ciri-ciri ini mengacu pada apel, ceri, dan kersen.
Atau... mungkin Anda tahu buah lain yang mirip buah tersebut? Jadi, bagaimana menurut Anda?

Sisi Positif
Ketika saya di dalam acara Motivation Day FTI, ada yang menarik dari sebuah himpunan jurusan. Saat itu kami disuruh main game yang gaje (gak jelas). Terus, setelah selesai, mereka tanya, “Apa esensi dari game ini?”
Nah, seorang teman saya menjelaskan dengan keren, bahwa game gaje ini punya esensi yang luar biasa. Menambah wawasan lah. Berpikir kritis lah.
Terus mereka bilang, “Nah, jadi game ini tuh gak ada esensinya. Jadi, esensinya, apa pun yang sebenarnya gak ada esensinya, bila kalian mencari-cari esensinya, pasti selalu ada.” Jadi, intinya, kalau kita memandang segalanya dari sudut pandang positif, kita akan menemukan hikmah.
Kata Ust. Hanan juga, di islam pun kita mengutamakan hikmah. Kan banyak di Alquran yang begini. “Sesungguhnya, dari yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang berpikir.” Allah tuh mau hambanya mencari hikmah di kehidupannya. Itu saya kutip dari ceramahnya Ust. Hanan loh, ya. Da aku mah apa. Hanya sebongkah berlian di antara butiran kerikil butiran rengginan di dasar toples terdalam.

Oke, sekarang kita pandang saja gambar gaje saya secara positif. Kita buat dia berfilosofi. Intinya, kalau kita mau membangun kebersamaan, jangan bawa-bawa perbedaan. Coba cari persamaannya, maka keharmonisan akan terbentuk (haseeek). Coba lihat gambar ini lagi.

Meski yang lain ceri, sementara ia hanyalah sebutir kersen seorang diri, dan ia adalah si cantik apel, bila mereka membawa kebersamaannya, maka harmonisasi warna merah tetap terjaga. Si kecil kersen pun tak merasa sendiri, dan si cantik apel pun berendah hati.
Coba kita cari-cari perbedaannya. “Itu kan pas lagi merah aja. Dibuat-buat mengkilap lagi. Pasti ada lilinnya. Coba kalo itu pas lagi ijo.”

Si kersen pun akan  merasa  dirinya hanya sebuah keberadaan kecil yang tak berarti. “Da aku mah apa. Hanya butiran empuk yang akan terinjak dua menit lagi.” Keharmonisan warnanya pun jadi terganggu.
Mungkin filosofi yang lebih utama dapat ditanamkan dari gambar saya itu seperti yang saya dapat ketika Motivation Day. Ketika melihat logo saya itu, ingatlah. Coba cari sisi di mana dapat kita temukan hikmah. Cari sendiri saja filosofinya. Terapkan untuk semua yang terjadi dalam kehidupan kamuuuuu, aku, dan kita.
Oh iya, itu di logo yang saya gambar, ada bundar di tengah, maksudnya udah digigit ya. Biar artistik, kayak katanya Steve Jobs.

Sekian catatan singkat saya. Semoga selalu ada hikmah, ya.