Tampilkan postingan dengan label Yapping. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yapping. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Desember 2025

Yapping Kebebasan: Kebebasan Mengikat, tetapi Keterikatan Membebaskan


Kita mulai dengan analogi sederhana ber-IQ 78: sebuah batu, bentuknya bulat, diletakkan di sebuah bidang (sangat) miring. Apa coba yang terjadi? Batu mulai menggelinding. Segala hal tentangnya menjadi deterministik. Percepatannya, kecepatannya, dan posisinya pada waktu tertentu dapat diprediksi. Selanjutnya kita akan menggunakan bahasan yang agak sains. Skip saja paragraf selanjutnya kalau otak mengepul.


Kebebasan batu

Dalam skala jumlah yang lebih banyak, perilaku banda takbebas masihlah deterministik, termasuk interaksi jutaan partikel yang dapat disimulasikan dalam molecular dynamics. Namun, ini bukan soal determinisme. “Partikel dalam kotak” mungkin dibilang tidak mengikuti kaidah determinisme. Bagaimanapun, prinsip mekanika kuantum, meski berbeda dari mekanika klasik, tetaplah mengikuti aturan (hukum alam). Elektron di sekitar atom tidak memiliki kehendak pribadi untuk tiba-tiba berhenti karena mager. Prinsip ketidakpastian Heisenberg, dikatakan takpasti pun, tetap mengikuti aturan.

Pusing? Dari sekian yapping berbumbu sains, intinya, batu dan berbagai macam benda tanpa kehendak, hanya bisa pasrah mengikuti hukum alam. Ini tak hanya berlaku untuk benda takhidup. Tanaman di atas pot hanya mati pasrah saat tidak disiram, plankton hanya mengikuti ke mana arus membawa, dan spons hanya bertapa di dasar laut. Mereka adalah makhluk takbebas.

Kebebasan kucing

Kembali ke bidang miring, kita ganti batu dengan seekor kucing (hidup, sehat, tidak cacat). Kali ini kita sebagai penonton lebih sulit memprediksi apa yang akan terjadi. Apakah kucing akan otomatis bergerak ke bawah, menggelinding seperti batu? Kucing memiliki kehendak. Ia bisa saja mendaki ke atas atau tiduran lalu merosot. Kita hadirkan harimau jawa, atau kapibara, atau kudanil sekalipun, kucing tidak serta merta menunjukkan reaksi yang predictable. Mereka bisa saja lari atau bersikap bodo amat.

Kucing bukan lagi makhluk takbebas. Ia memiliki kehendak dan ia bebas. Batu dipukul hingga remuk pun tak apa, tetapi kucing akan kabur menyelamatkan nyawanya. Namun, ke mana kebebasan membawa kucing? Sekarang kita tidak menaruh harimau jawa, kapibara, atau kudanil, tetapi kita taruh whiskas di atas bidang miring. Di sini, perilaku kucing akan cukup predictable. Kucing hampir pasti naik ke arah whiskas, apalagi jika dipanggil, “Pus!”

Kebebasan hewan selalu mengacu pada dua hal: memenuhi kebutuhan dan menghindari bahaya. Taruhlah kucing jantan di sebuah rumah besar dipenuhi ribuan kucing betina. Jadilah babu dan berikan dia makanan yang sangat banyak. Kita tahu kucing akan memilih untuk makan sebanyak-banyaknya dan memuaskan hasratnya pada kucing-kucing betina itu. Terprediksi. Dia tidak memahami konsep penyakit atau overweight. Kebebasan hewani dikendalikan oleh nafsu.


Kebebasan Manusia

Manusia tidak begitu. Atau tepatnya, manusia seharusnya tidak begitu, karena manusia memiliki kebebasan paling tinggi yang berdiri di atas fondasi pemahaman atas hukum sebab-akibat. Katakanlah bro memiliki uang tak terbatas. Bro bisa berfoya-foya, bersenang-senang, memakan apa pun, mabuk-mabukan, main wanita, dan sebagainya. Namun, semua ada konsekuensinya. Misal, hanya misal:

Makan apa pun → obesitas → mati

Mabuk-mabukan → merusak tubuh → mati

Main cewek → kena AIDS → mati

Singkat, padat, mati. Tentu itu hanya penyederhanaan. Dunia ini lebih kompleks, tetapi hukum sebab akibat berantai tetaplah berlaku, meski rantainya sepanjang Anyer-Panarukan. Pada akhirnya, kebebasan memiliki batasan karena hukum dunia yang tak terbantahkan.

Sekarang, bro memiliki gagasan tentang pola hidup sehat. Bro membatasi makanannya, hanya makan makanan berkualitas tinggi, mengurangi gula, tidak mabuk-mabukan, dan membayar mahal orang untuk menjadi penyuruhnya di gym. Sekarang, bro seolah menjadi terikat. Bro tidak bisa memuaskan nafsu seenak jidatnya. Namun, justru ini adalah bentuk kebebasan tertinggi, yang bukan lagi kebebasan hewani, tetapi kebebasan manusiawi: kebebasan akal. Bro yakin dengan menjalankan semua itu, ia akan menjalani hidup yang sehat dan tidak terkekang oleh penyakit. Maka, kebebasan hewani justru menjadi pengekangnya. Saat bro melihat kue bergula tinggi, lalu menggunakan uang tak terbatasnya untuk membeli dan memakan kue itu, di sinilah bro kehilangan kebebasan manusianya. Ia masih diperbudak oleh nafsu.

Bro hanyalah contoh sederhana di mana sebuah gagasan menjadi dasar atas kebebasannya sebagai manusia. Kita bisa perbesar skalanya dalam kehidupan sosial. Kita punya kehendak bebas untuk melaju di lampu merah, kita punya kebebasan untuk membuka baju dan berangkat kerja tanpa pakaian, atau melayangkan pukulan ke sembarang orang karena “Ini tangan gue, ya terserah gue.” Semua ada konsekuensinya. Seseorang melaju di lampu merah mungkin tampak tak apa. Namun ini akan menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama, karena, “Dia aja bisa. Kenapa gue harus nurut aturan?” Ketika semua orang melakukan hal yang sama atas nama kebebasan, maka sistem sosial yang sudah dibangun akan hancur. Padahal, manusia menjalani kehidupan yang lebih beradap dan efisien daripada hewan karena sistem sosial ini. Kebebasan akan membawa pada kehancuran.


Sebagai seorang introver, by default saya akan memilih untuk menghabiskan waktu main video game di kamar seharian. Namun, Islam menyuruh saya untuk keluar, berjamaah di masjid. Saya lakukan, dan akhirnya menyadari nikmatnya bersosial, menemukan rekan bisnis, sampai menemukan istri karena masjid. Islam juga menyuruh saya bersikap lemah lembut dan romantis kepada istri, menyisihkan harta untuk orang lain, menghormati orang tua dan guru, dan lain sebagainya. Semua itu menuntun pada kebahagiaan. Tentu ada banyak hal yang belum saya pahami sebab-akibatnya, tetapi pasti ada. Semua itu menjadi satu kesatuan nilai bernama “Islam”, termasuk di dalamnya salat, puasa, zakat, dan haji. Maka, saya akan jadi kehilangan kebebasan dan menjadi budak nafsu ketika saya meninggalkan aturan yang ada di dalamnya seperti jika meninggalkan salat.

Kita hanya benar-benar bebas jika bisa menjalankan gagasan kita murni digerekkan oleh akal, tanpa kekangan nafsu. Sekian yapping dari saya, sudahkah kalian salat hari ini?