Bulat Merah
Kok ada pertanyaan begitu sih? Kan jelas apa bedanya. Apel
besar, dan perlu usaha lebih besar untuk menggigitnya. Ceri lebih kecil, lebih
lunak digigit. Kersen lebih kecil lagi, dan lebih lunak lagi. Sekarang perhatikan
gambar ini. Ini awalnya hanya gambar ceri. Tapi kemudian semua berubah ketika negara
api menyerang saya edit dengan Photoshop. Saya tempel sebutir apel dan
sebutir kersen. Coba, mana apel dan kersennya?
Intinya, ketiga benda ini punya dua persamaan utama.
Buah
Buah
Bulat
Merah
Oke, pernyataan tersebut hanya untuk penegasan bahwa saya
tidak gila atau bodoh karena tidak bisa membedakan mana yang apel, ceri, dan
kersen. Nah, apa yang membuat saya bingung adalah, gambar apakah ini?
Gambar itu adalah logo yang saya buat untuk blog saya.
Niatnya, saya ingin membuat gambar apel, karena kata Steve Jobs, apel itu
bentuknya artistik. Tapi, karena keterbatasan kemampuan gerak-gerik tangan saya
dalam menggambar, akhirnya yang tercipta adalah gambar buah (iya gak sih?)
berbentuk lingkaran, berwarna merah, dan memiliki tangkai hijau, yang mana
ciri-ciri ini mengacu pada apel, ceri, dan kersen.
Atau... mungkin Anda tahu buah lain yang mirip buah
tersebut? Jadi, bagaimana menurut Anda?
Sisi Positif
Ketika saya di dalam acara Motivation Day FTI, ada yang
menarik dari sebuah himpunan jurusan. Saat itu kami disuruh main game yang gaje
(gak jelas). Terus, setelah selesai, mereka tanya, “Apa esensi dari game ini?”
Nah, seorang teman saya menjelaskan dengan keren, bahwa
game gaje ini punya esensi yang luar biasa. Menambah wawasan lah. Berpikir
kritis lah.
Terus mereka bilang, “Nah, jadi game ini tuh gak ada
esensinya. Jadi, esensinya, apa pun yang sebenarnya gak ada esensinya, bila
kalian mencari-cari esensinya, pasti selalu ada.” Jadi, intinya, kalau kita
memandang segalanya dari sudut pandang positif, kita akan menemukan hikmah.
Kata Ust. Hanan juga, di islam pun kita mengutamakan
hikmah. Kan banyak di Alquran yang begini. “Sesungguhnya, dari yang demikian
itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang berpikir.” Allah tuh
mau hambanya mencari hikmah di kehidupannya. Itu saya kutip dari ceramahnya
Ust. Hanan loh, ya. Da aku mah apa. Hanya sebongkah berlian di antara
butiran kerikil butiran rengginan di dasar toples terdalam.
Oke, sekarang kita pandang saja gambar gaje saya secara
positif. Kita buat dia berfilosofi. Intinya, kalau kita mau membangun
kebersamaan, jangan bawa-bawa perbedaan. Coba cari persamaannya, maka
keharmonisan akan terbentuk (haseeek). Coba lihat gambar ini lagi.
Meski yang lain ceri, sementara ia hanyalah sebutir
kersen seorang diri, dan ia adalah si cantik apel, bila mereka membawa
kebersamaannya, maka harmonisasi warna merah tetap terjaga. Si kecil kersen pun
tak merasa sendiri, dan si cantik apel pun berendah hati.
Coba kita cari-cari perbedaannya. “Itu kan pas lagi merah
aja. Dibuat-buat mengkilap lagi. Pasti ada lilinnya. Coba kalo itu pas lagi
ijo.”
Si kersen pun akan
merasa dirinya hanya sebuah
keberadaan kecil yang tak berarti. “Da aku mah apa. Hanya butiran empuk yang
akan terinjak dua menit lagi.” Keharmonisan warnanya pun jadi terganggu.
Mungkin filosofi yang lebih utama dapat ditanamkan dari
gambar saya itu seperti yang saya dapat ketika Motivation Day. Ketika melihat
logo saya itu, ingatlah. Coba cari sisi di mana dapat kita temukan hikmah. Cari
sendiri saja filosofinya. Terapkan untuk semua yang terjadi dalam kehidupan kamuuuuu,
aku, dan kita.
Oh iya, itu di logo yang saya gambar, ada bundar di
tengah, maksudnya udah digigit ya. Biar artistik, kayak katanya Steve Jobs.
Sekian catatan singkat saya. Semoga selalu ada hikmah,
ya.





Wah bagus ... menginspirasi.
BalasHapusTerutama bagi aktivis. Btw, aku teman SMA-mu. Sepertinya kita dulu cuma sebatas tau nama dan orangnya, jarang kelihatan main bareng. Tau-tau udh di ITB aj. Tapi gak ppa lah. Sukses ya, Bro!
Selow. Aku masih mengingatmu, brow. Kita sebangku kalo gak salah pertama kali, haha...
BalasHapusMin kalo bikin artikel yang jelas asal usul nya, harus di cantumkan perbedaannya dan dari mana dasar perbedaannya, kersen itu dari bahasa belana yang biasa disebut javanes kersn, di Indonesia di bilang kersen, padahal sama aja cery cery juga tumbuhan yang sama
BalasHapus