Minggu, 02 April 2017

Apa Bedanya Apel, Ceri, dan Kersen?


Bulat Merah
Kok ada pertanyaan begitu sih? Kan jelas apa bedanya. Apel besar, dan perlu usaha lebih besar untuk menggigitnya. Ceri lebih kecil, lebih lunak digigit. Kersen lebih kecil lagi, dan lebih lunak lagi. Sekarang perhatikan gambar ini. Ini awalnya hanya gambar ceri. Tapi kemudian semua berubah ketika negara api menyerang saya edit dengan Photoshop. Saya tempel sebutir apel dan sebutir kersen. Coba, mana apel dan kersennya?

Intinya, ketiga benda ini punya dua persamaan utama.
Buah
Bulat
Merah
Oke, pernyataan tersebut hanya untuk penegasan bahwa saya tidak gila atau bodoh karena tidak bisa membedakan mana yang apel, ceri, dan kersen. Nah, apa yang membuat saya bingung adalah, gambar apakah ini?

Gambar itu adalah logo yang saya buat untuk blog saya. Niatnya, saya ingin membuat gambar apel, karena kata Steve Jobs, apel itu bentuknya artistik. Tapi, karena keterbatasan kemampuan gerak-gerik tangan saya dalam menggambar, akhirnya yang tercipta adalah gambar buah (iya gak sih?) berbentuk lingkaran, berwarna merah, dan memiliki tangkai hijau, yang mana ciri-ciri ini mengacu pada apel, ceri, dan kersen.
Atau... mungkin Anda tahu buah lain yang mirip buah tersebut? Jadi, bagaimana menurut Anda?

Sisi Positif
Ketika saya di dalam acara Motivation Day FTI, ada yang menarik dari sebuah himpunan jurusan. Saat itu kami disuruh main game yang gaje (gak jelas). Terus, setelah selesai, mereka tanya, “Apa esensi dari game ini?”
Nah, seorang teman saya menjelaskan dengan keren, bahwa game gaje ini punya esensi yang luar biasa. Menambah wawasan lah. Berpikir kritis lah.
Terus mereka bilang, “Nah, jadi game ini tuh gak ada esensinya. Jadi, esensinya, apa pun yang sebenarnya gak ada esensinya, bila kalian mencari-cari esensinya, pasti selalu ada.” Jadi, intinya, kalau kita memandang segalanya dari sudut pandang positif, kita akan menemukan hikmah.
Kata Ust. Hanan juga, di islam pun kita mengutamakan hikmah. Kan banyak di Alquran yang begini. “Sesungguhnya, dari yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang berpikir.” Allah tuh mau hambanya mencari hikmah di kehidupannya. Itu saya kutip dari ceramahnya Ust. Hanan loh, ya. Da aku mah apa. Hanya sebongkah berlian di antara butiran kerikil butiran rengginan di dasar toples terdalam.

Oke, sekarang kita pandang saja gambar gaje saya secara positif. Kita buat dia berfilosofi. Intinya, kalau kita mau membangun kebersamaan, jangan bawa-bawa perbedaan. Coba cari persamaannya, maka keharmonisan akan terbentuk (haseeek). Coba lihat gambar ini lagi.

Meski yang lain ceri, sementara ia hanyalah sebutir kersen seorang diri, dan ia adalah si cantik apel, bila mereka membawa kebersamaannya, maka harmonisasi warna merah tetap terjaga. Si kecil kersen pun tak merasa sendiri, dan si cantik apel pun berendah hati.
Coba kita cari-cari perbedaannya. “Itu kan pas lagi merah aja. Dibuat-buat mengkilap lagi. Pasti ada lilinnya. Coba kalo itu pas lagi ijo.”

Si kersen pun akan  merasa  dirinya hanya sebuah keberadaan kecil yang tak berarti. “Da aku mah apa. Hanya butiran empuk yang akan terinjak dua menit lagi.” Keharmonisan warnanya pun jadi terganggu.
Mungkin filosofi yang lebih utama dapat ditanamkan dari gambar saya itu seperti yang saya dapat ketika Motivation Day. Ketika melihat logo saya itu, ingatlah. Coba cari sisi di mana dapat kita temukan hikmah. Cari sendiri saja filosofinya. Terapkan untuk semua yang terjadi dalam kehidupan kamuuuuu, aku, dan kita.
Oh iya, itu di logo yang saya gambar, ada bundar di tengah, maksudnya udah digigit ya. Biar artistik, kayak katanya Steve Jobs.

Sekian catatan singkat saya. Semoga selalu ada hikmah, ya.

0 Komentar

Posting sebagai: Memuat...
0 / 1000
Memuat komentar...

3 komentar:

  1. Wah bagus ... menginspirasi.
    Terutama bagi aktivis. Btw, aku teman SMA-mu. Sepertinya kita dulu cuma sebatas tau nama dan orangnya, jarang kelihatan main bareng. Tau-tau udh di ITB aj. Tapi gak ppa lah. Sukses ya, Bro!

    BalasHapus
  2. Selow. Aku masih mengingatmu, brow. Kita sebangku kalo gak salah pertama kali, haha...

    BalasHapus
  3. Min kalo bikin artikel yang jelas asal usul nya, harus di cantumkan perbedaannya dan dari mana dasar perbedaannya, kersen itu dari bahasa belana yang biasa disebut javanes kersn, di Indonesia di bilang kersen, padahal sama aja cery cery juga tumbuhan yang sama

    BalasHapus